Aku

… adalah seekor sapi malang yang terlahir ke dunia beberapa bulan lalu. Kenapa aku sebut diriku malang? Karena aku tidak diurus dengan baik oleh majikan ku. Aku tentu tidak bisa menyesali ayah dan ibu yang sudah melahirkan. Mereka bisa apa? Aku sudah cukup bahagia dengan kesempatan yang diberikan ayah dan ibuku untuk selalu berada di samping mereka saat aku merumput. Di usia dalam hitungan minggu, aku masih tidak kekurangan apapun dari ibu. Aku tetap bisa menyusui dimana pun beliau berada. Aku tetap membuntuti kemana pun ibu pergi. Ya.. aku bilang kemana pun, karena kami, aku, ayah dan ibu ku harus terus mencari makan sediri kemana-mana.

Majikan ku

… bukan orang kaya, bukan orang yang berada. Dia termasuk orang miskin yang tidak punya apa-apa. Bahkan membuat kandang saja dia tidak mampu. Tapi yang aku sesali adalah, dia benar-benar tidak mau berusaha mencarikan kami rumput untuk kami makan di suatu tempat. Padahal aku tahu betul, begitu banyak lahan kosong dimana-mana di area perkampungan ini yang bisa dijadikan tempat aku dan ayah ibu ku untuk diikat supaya tidak harus pergi kemana-mana untuk mencari makan. Jika saja dia sedikit berusaha, tentu aku tidak perlu mencari makan kemana-mana, tentu kami tidak harus mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitar perumahan ini, tentu aku tidak perlu kehilangan sebelah kaki ku dan harus menanggung sakit setiap kali melangkah. Bahkan aku sangat sedih melihat penderitaan ibu saat ini. Kulitnya sampai luka hingga terkelupas karena dicambuk warga sekitar. Mungkin memang ibu yang bersalah, yang mencoba mencari makan dengan mencuri dari ladang orang. Tapi apa yang kami tau???? kami hanya mencari makan!

READ  Sesuatu yang Tidak Pernah Ku Duga Tentang MALAYSIA – (cerita 2)

Pada hari itu

… aku masih berumur dua bulan. Aku sedang merumput di sebuah rumah kosong yang sedang dibangun dan ditinggal pemiliknya. “tempat ini teduh dan bisa dijadikan kandang” pikirku. Lalu aku memakan rumput yang sudah tinggi di sekitar halaman rumah kosong tersebut dan berteduh di bawah atap untuk beristirahat sekali-kali. Aku kembali ke tempat itu berkali-kali, melewati perumahan dan menyebrangi sebuah rawa bersama ayah dan ibu ku. Si suatu malam, aku tidak tau entah bagaimana aku bisa kehilangan jejak orang tua ku. Aku tidak tau jalan pulang dan tetap saja berdiam di rumah itu. Entah apa yang terjadi, di sebuah malam yang gelap, kaki ku serasa perih dan aku langsung jatuh dan pingsan. Keesokan harinya, aku masih terkapar di tanah, mencoba berusaha untuk bangkit namun aku tidak mampu. Kaki ku begitu sakitnya, ditambah dengan serangan-serangan lalat yang terus menggerogoti daging kaki ku yang ternganga. Apa tidak ada yang peduli dengan ku? Apa ada yang mencari ku? Apa ada yang membutuhkan aku sekarang? Kenapa tidak siapa pun datang menyelamatkan hingga aku harus menderita berhari-hari untuk berusaha bangkit?

Tiga hari berlalu,

…akhirnya majikan ku datang. Mungkin seseorang telah memberitahunya. Tapi dia sudah terlambat. Kaki ku sudah infeksi dan membusuk. Aku mendegar ocehan nya tentang betapa nakalnya aku yang tidak mau diam di tempat, sehingga sebuah tali tanpa sengaja telah melilit kaki ku hingga nyaris ke tulang-tulangnya. Andai saja dia tahu apa yang terjadi.  Mungkin saja seseorang telah berbuat jahat padaku. Mungkin saja mereka marah. Tidak kah majikan ku ini punya telinga ketika warga marah-marah aku membuat kotoran dimana2? Sampai mobil-mobil mereka kadang melindas kotoran ku dan membawa masuk ke garase rumah mereka. bahkan kadang kala kotoran ku ada di halaman rumah-rumah warga. Aku tidak sengajaaa… Apa semua itu salah ku saja? Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tetap harus terus bertahan hidup dan mencari makan sendiri.

READ  [Jokes] Wawancara dengan Tukang Sate

Minggu-minggu berlalu

… dan keadaan ku semakin parah. Kaki ku semakin membusuk dan aku kehilangan kaki ku! Aku harus tetap menerima hidup seperti ini. Mencari makan kesana kemari dengan terseok-seok, bahkan kadang harus aku injakkan kaki yang luka ini ke tanah untuk bisa berlari lebih cepat ketika orang-orang mengusir ku. Aku juga tidak mau tubuh ku dipukuli seperti ibu. Aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini, namun apa daya ku? ini adalah penderitaan sementara, hingga di penghujung umur ku, aku akan tetap di sembelih.

cerita seekor sapi

tags: cerita, tentang sapi,cerita seekor sapi, cerita sedih binatang, cerita hewan menderita, seekor sapi, story of a cow, cow shit, bullshit, tai sapi dimana2, cerpen anak, cerpen binatang

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *