Saya bukan seorang pengamat pendidikan, tapi setidaknya pernah mengecap rasa mengajar dan mendidik, bahkan sekarang rutin menulis.  Saya sudah bisa melihat apakah yang saya tulis dari pikiran saya, bisa sampai kepada pembaca dengan kapasitas yang sama. Saya tidak bicara 1 kalimat sederhana misalkan saya menulis ” ini ibu budi” kemudian orang membaca “ini ibu budi” namun sebaliknya ketika saya menulis “ini ibu Budi” seharusnya pembaca tahu bahwa “Ibu tersebut adalah seseorang yang melahirkan si Budi” sesuai dengan apa yang sedang saya pikirkan. Bagaimana dengan semua itu? Inilah yang ingin saya bahas.

Hal yang ingin saya tekankan adalah,

Mengajar tidak saja mengajar, Mendidik tidak saja mendidik, tapi juga Mendoktrin. Dan semua itu dimulai dari sumbernya; yaitu sebuah tulisan.

Sudah berapa tahunkah kita memberikan pelajaran membaca kepada anak didik kita dengan mengawali kalimat sederhana “ini ibu Budi?” mungkin sekarang sudah berganti nama menjadi “ini mama Jackson” sebuah perubahan zaman, tapi apakah itu bisa merubah sesuatu? Saya tidak meneliti lagi buku pelajaran membaca anak-anak SD sekarang, Saya hanya mengingat pelajaran dan buku yang pernah saya dapatkan selama pendidikan,  dan inilah sebuah buku terbaik yang pernah saya baca  ” Naar Nederland”

Naar Nederland

Naar Nederland adalah buku pelajaran bahasa Belanda yang mau tidak mau harus saya beli seharga €120 (Rp. 1.400.000) lengkap dengan buku bergambar, video dan audio cd. Apa yang saya dapatkan di buku ini adalah sebuah doktrin, dimana saya yang hanya membeli buku pelajaran bahasa Belanda, menjadi ‘memiliki sebuah pemikiran untuk…’, misalnya berpikir tentang: ‘kalau di Belanda nanti saya akan kerja di sini’, ‘jika di Belanda nanti setiap bertemu orang saya harus membuat janji’, ‘jika di Belanda nanti saya akan mengurus anak sambil bekerja karena hidup di Belanda susah’, ‘Jika di Belanda nanti saya akan pergi kemana-mana dengan sepeda’, dsb. Semua itu terlahir akibat doktrin dari tulisan, contoh percakapan, mengulang kalimat berkali-kali, dan sebagainya. Seolah-olah, pemerintah sudah menyampaikan bahwa inilah yang harus kamu lakukan sesampainya kamu di Belanda!

READ  Cerita Seekor Sapi di Sebuah Perumahan

naar nederland

Jika dibandingkan dengan buku pelajaran bahasa Inggris yang pernah saya baca dan ajarkan kepada murid-murid saya dulu, yang mana contoh percakapan dan bacaaannya adalah ‘this is rice field = ini sawah’ kemudian akan ada penjabaran tentang apa itu sawah dan dimana bercocok tanam sawah. Ada lagi judulnya ‘Indonesian archipelago = kepulauan Indonesia’ yang kemudian menjelaskan tentang berapa banyak  pulau di Indonesia dan berapa banyak bahasa dan dialek yang kita punya. Sungguh suatu yang berbeda dari sifat “doktrin”.

Sebab dari itulah, apa yang sudah saya alami, taktik doktrin yang disertakan dalam buku ini menjadi buku terbaik yang pernah saya baca. Saya tidak mengatakan tentag Belanda-nya yang terbaik, namun sebuah tulisan yang bisa membuat ‘si pembaca membuat sebuah pemikiran’, adalah suatu hal yang luar biasa. Selain buku pendidikan, yang mampu membuat Anda terdoktrin adalah novel. Mungkin menemukan taktik ‘doktrin’ di Novel dan Film merupakan hal yang biasa, tetapi menemukannya di sebuah buku pelajaran adalah suatu hal yang luar biasa. Ini bisa dijadikan trik awal untuk buku pelajaran SD, SMP dan SMA demi membentuk pelajar dan pemuda yang sesuai dengan harapan bangsa.

Mengajar, Mendidik dan Mendoktrin

Bagaimana itu Mengajar, mendidik dan mendoktrin… serta contoh-contohnya, akan saya bahas di posting berikutnya dengan sebuah power point, agar bisa Anda bagikan untuk para pendidik lainnya.

Tobe continued..

 

Semoga bermanfaat
– Caprivhia

 

Facebook Comments

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *