Beberapa minggu lalu saya ke Malaysia lagi, namun pengalaman kali ini jauh berbeda dengan pengalaman pertama kali saya ke Malaysia. Saat saya pertama kali datang ke Malaysia, saya berdua dengan suami (orang bule) dan kami berdua benar-benar menjadi turis yang hanya tahu sebagian kecil tentang Malaysia. Misalnya, harga makanan kalau makan di restoran, harga transportasi dengan kereta listrik dan monorel sepanjang Kuala Lumpur, dan harga tarif hotel di seputar KL Sentral – karena kami memang menginap di hotel sekitar wilayah tersebut. Lain halnya dengan kedatangan saya ke Malaysia yang kedua kali, saya datang sendiri, dan tinggal di rumah teman yang sudah berada di Malaysia selama beberapa tahun terakhir. Sehingga banyak sekali cerita yang saya dapatkan tentang sebenar-benarnya Malaysia dan bagaimana nasib kawan ini di sana.

Orang Malaysia nggak kenal basa-basi

Ternyata basa-basi ini hanya ada di Indonesia lho, pantas saja negara kita sangat terkenal dengan budaya ramah tamahnya, senyumnya, dan kepedulian terhadap sesama. Apa yang saya alami saat pertama kali datang ke Malaysia membuat saya kaget, karena saya dihardik orang, diusir orang padahal saya customer yang sedang berusuran dengan mereka. Hal tersebut saya konfirmasi ke teman, dan ternyata teman saya bilang, memang demikian di Malaysia. No Basa-basi! Ditambah lagi satu keadaan yang saya lihat berdua suami waktu itu di atas monorel; seorang lelaki berdiri dari tempat duduknya dan mempersilahkan seorang perempuan untuk duduk. Usia mereka sama, kira2 masih kuliah. Dan, what… si cewek yang tadi dipersilahkan duduk langsung duduk tanpa perlu mengucapkan “terima kasih plus senyum simpul”. Seperti sebuah sistem yang sudah ada dan tidak perlu merasa berhutang budi.

READ  Mencoba Untuk Tidak Mengeluh

Biaya hidup di Malaysia ternyata tidak mahal

Sebenarnya hidup di negara yang mata uangnya lebih tinggi dari negara kita, bisa dianggap “lebih mahal” ketimbang hidup di Indonesia. Yang pasti, Rupiah masih berada sangat rendah dibandingkan US Dollar, Euro, Yen, bahkan Ringgit Malaysia sekalipun. Saat ini rate mata uang Malaysia adalah 1:3,2 dengan Indonesia. RM1 = Rp. 3200. Ketika Anda menerima gaji di Jakarta sebesar 3.200.000, mungkin untuk menutupi biaya hidup sendiri saja tidak cukup. Tetapi jika Anda memiliki gaji 1.000 ringgit di Malaysia, maka hidup Anda sudah cukup enak tinggal di negara yang lingkungannya bersih, transportasi aman, tanpa macet, fasilitas kesehatan murah dan biaya hari-hari yang sangat murah. Bahkan saya kaget ketika membeli nasi goreng di warung dekat kompleks perumahan hanya RM 2 (Rp. 6rban).

 
Ada satu ketika saya melihat iklan biaya klinik RM 1, saya langsung konfirmasi teman saya, dan ternyata ini benar lho…
bahkan biaya melahirkan beliau di klinik saja hanya RM 5 (15rban), dan biaya cuci darah ketika anaknya sakit hanya RM 15 (45rban), boleh di bilang hanya biaya administrasi yang harus dibayar dan sisanya gratis. Kabarnya di hospital kerajaan biaya melahirkan hanya RM 25. Sayang sekali haarga-harga tidak tercantum di web yang bisa saya bagikan kepada Anda.
So, berhubung teman saya bisa menghasilkan belasan juta rupiah per bulan dengan biaya hidup demikian murahnya, makanya beliau tenang-tenang saja di Malaysia, nggak mau pulang kampung.

Bersambung…
klinik di Malaysia

tags: Informasi tentang Malaysia, jalan-jalan ke Malaysia, Monorel Malaysia, tips jjs Malaysia, travel info, trip ke Malaysia, tentang Malaysia, rumah sakit Malaysia, 

Facebook Comments

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *