Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan sang pacar mengenai binatang piaraan. Saya cerita betapa rindunya saya  dengan kucing saya, dan doi cerita betapa rindunya dia dengan tikus nya. Heh? “Lo, pelihara tikus?”

Disinilah dimulai sebuah percakapan serius antara saya (orang Indonesia) dan pacar saya (orang Belanda). Saya langsung nyeloteh “manusia macam apa itu memelihara tikus sebagai binatang peliharaan?”

“Helooowww… Jeng, maaf ya. Tikus di negara saya tidak kotor seperti tikus di negara kamu, negara saya bersih, nyari tikus aja susah. Langka nek”

Owh.
Silent >_< malu
Kemudian, si doi bertanya “sebenarnya siapa sih yang bertanggung jawab atas kotornya negri kamu?”
“Seriously!? Kamu nanya saya?”
Hmmm saya berfikir sejenak.Yang bersalah adalah 5 faktor:

1. Saya
2. Keluarga saya
3. Tetangga saya
4. Pemerintahan saya
5. Cuaca negara saya

Yup, saya bertanggung jawab karena ikut membuang sampah sembarangan, demikian juga Anda hai orang yang ada di negri ini. Keluarga saya bertanggung jawab setiap hari menyampahi bumi ini demikian juga kelurga Anda yang bercokol di negri ini. Demikian juga tetangga saya. Pemerintah saya tidak pernah memprioritaskan pendidikan tentang kebersihan, sehingga kami tidak pernah menyadari itu. Ditambah lagi cuaca negri ini yang kadang panas dan kadang hujan tak tentu, membuat jamur merekah dimana-mana. Membuat peradaban bakteri semakin meraja lela.

Huh!!
Pacar saya bertanya lagi, “jadi kenapa kamu menyalahkan habitat tikus yang membawa penyakit, sementara kalian lah yang menciptakan lahan untuk mereka berkembang biak.”
Diam lagi >_< malu
Jadi saya harus bagaimana?

Membunuh tikus atau merapikan diri saya supaya tidak membuat lahan kehidupan untuk si tikus?

Facebook Comments
READ  Kisah kasih ku dengan Hosting Bluehost - 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *